Cegah Hepatitis B Pada Bayi

Posted by Unknown on Thursday, June 16, 2011

Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Itulah kalimat bijak yang harus kita pakai sebelum bayi terkena penyakit hepatitis B, pasalnya, infeksi virus hepatitis B telah lama dikenal keganasannya lantaran dapat berkembang menjadi ganas dan merusak organ hati. Tak hanya orang dewasa, justru bayi rentan tertular virus ini.


Penyebab Hepatitis B
Penyakit hepatitis biasa dikenal sebagai penyakit kuning, karena salah satu gejala penyakit ini adalah timbulnya warna kuning pada kulit, kuku dan bagian putih bola mata.

Hepatitis adalah peradangan organ hati yang disebabkan oleh infeksi virus, gangguan metabolisme, hasil komplikasi dari penyakit lain, efek samping dari konsumsi obat-obatan maupun kehadiran parasit dalam organ hati (liver).


Penularan.
Penyakit ini memiliki efek kesehatan yang serius, seperti kegagalan hati, kanker hati dan sirosis.
Adapun penularan penyakit ini bisa diakibatkan infeksi saat masih bayi. Infeksi dari ibu yang mengidap virus hepatitis bisa terjadi sejak masa persalinan hingga bayi mencapai usia balita.

Penularan dapat pula terjadi melalui hubungan seksual, air liur, keringat, mani, dan melalui serangga-serangga penghisap darah, misalnya nyamuk. Juga bisa terjadi bila kulit luka, tersentuh benda-benda yang mengandung virus, misalnya sikat gigi, alat cukur, gelas minum, barang mainan, botol bayi, sarung tangan karet, handuk, alat-alat rumah sakit dan lain sebagainya.




Pencegahan.
Agar bayi terhindar dari penyakit ini, hendaknya orang tua melakukan pencegahan sejak dini sebagai berikut:
  • Pemberian Vaksin.
Pemberian vaksin hepatitis B bagi bayi menjadi penting karena penularan yang sering terjadi adalah melalui jalan lahir dari ibu yang menderita hepatitis B atau disebut dengan penularan vertikal.
Penularan ini lebih membahayakan karena pada saat dewasa nanti si bayi dapat menderita hepatitis kronik. Untuk mencegah penularan ini, setiap bayi diwajibkan mendapat vaksin hepatitis B pada usia 0-7 hari.
Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan ibu yang beresiko tinggi dengan melakukan vaksinasi saat kehamilan.
  • ASI Cukup.
Usahakan untuk memberikan ASI secara eksklusif.
Pemberian ASI yang cukup akan mengurangi resiko bayi dehidrasi sehingga kadar bilirubin yang berlebihan akan terbuang melalui air kencing. Selain itu, ASI juga mengandung sel darah putih yang lebih dari cukup yang dapat disalurkan kepada anak yang dapat melawan infeksi virus, bakteri dan parasit di usus.
  • Menjemur Bayi.
Sinar matahari pagi juga bisa merangsang pembentukan vitamin D dalam tubuh.
Paparan yang dibutuhkan tak perlu lama, cukup sekitar 10 menit pada pagi hari. Bila paparan sinar matahari begitu terik, kurangi waktu menjemurnya.
Jika kelamaan, bayi dikhawatirkan mengalami hipertermi (peningkatan suhu tubuh). Kondisi hipertermi beresiko menyebabkan gangguan pada fungsi metabolisme tubuh bayi, otak dan juga fungsi organ lainnya.

Sebaiknya bayi dijemur di bawah sinar matahari kurang lebih antara jam 7 sampai jam 8 pagi dengan cara:
  1. Baju bayi dibuka, hanya memakai popok.
  2. Secara bergantian posisi terlentang, miring ke kiri dan ke kanan.
  3. Pada posisi menatap matahari langsung, mata ditutup dengan kasa.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment